Bupati Buton Dilaporkan Hilang

Daerah1419 Dilihat

Buton, netjournal.id – Bupati Buton dilaporkan hilang ke polisi. Bukan oleh keluarganya, tapi oleh mahasiswa IMM dan HMI. Mereka datang sambil membawa dokumen layaknya laporan kehilangan orang, lengkap dengan foto sang bupati. Alasannya, Alvin Akawijaya Putra sudah lebih setengah bulan tak ada di daerah.

Aksi ini diawali dengan unjuk rasa di Kantor Bupati, Kamis (18 September 2025). Mereka membawa poster dan lembaran dokumen bertuliskan “Laporan Keterangan Orang Hilang” lengkap dengan foto sang bupati. Tuntutannya bukan hanya mencari keberadaan fisik bupati, tapi juga menagih janji-janji politik yang dianggap ikut “hilang” yakni 6.000 lapangan kerja, jalan mulus, listrik terang, UMKM berdaya, hingga gaji honorer naik.

Dari kantor bupati, rombongan mahasiswa bergeser ke DPRD Buton, sebelum akhirnya mengantarkan surat resmi laporan kehilangan ke Polres Buton.

Surat bernomor 001/PID/SLP/IMM-HMI/IX/2025 itu memang nyata dan ditujukan ke Polres Buton. Dalam dokumen itu, Bupati Alvin Akawijaya Putra, disebut sebagai “terlapor kehilangan.”

Menurut mahasiswa, sang bupati meninggalkan rumah jabatan awal September 2025 tanpa pamit ke rakyat, lalu tak kunjung kembali. Hilang entah ke mana. Kalau ini sinetron, judulnya bisa jadi Cinta Bupati yang Hilang.

Namun jangan buru-buru mencari di poster orang hilang. Hilang yang dimaksud mahasiswa jelas bukan sekadar fisik, tapi juga “hilangnya” janji-janji manis yang dulu pernah dilontarkan.

Dalam suratnya, IMM dan HMI menuliskan daftar permintaan layaknya wishlist belanja online yakni janji 6.000 lapangan kerja, TPP yang dibayar tepat waktu, stimulus untuk UMKM, kenaikan gaji honorer, jalan mulus tanpa lubang, listrik terang benderang, sampai budaya Buton yang katanya bakal dijaga. Semua masih sebatas kata-kata, belum terlihat wujudnya.

Kalau dipikir-pikir, laporan ini bisa masuk rekor MURI kategori laporan kehilangan paling satir sepanjang sejarah Polres Buton. Isinya lebih mirip stand-up comedy ketimbang dokumen hukum. Bayangkan, polisi yang biasanya menerima laporan kehilangan motor atau dompet, kali ini disodori laporan kehilangan bupati. Mungkin akan sempat bingung, “ini serius atau lagi prank?”

Tapi mahasiswa Buton jelas tidak sedang bercanda. Mereka sengaja memilih gaya “laporan kehilangan” agar publik sadar bahwa yang hilang bukan hanya sosok bupati di kursi Pasarwajo, tapi juga keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya. Kritiknya tajam, tapi dibungkus dengan humor biar lebih mudah dicerna.

Di sisi lain, rakyat Buton tetap bertanya-tanya ke mana sebenarnya sang bupati? Wakil Bupati sempat bilang bahwa bosnya sedang dinas di Jakarta. Dinas apa, tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas sampai laporan ini dibuat, kursi bupati lebih sering kosong daripada dompet menjelang akhir bulan.

Fenomena “bupati hilang” ini juga menyimpan ironi klasik politik lokal yakni ketika kampanye, pemimpin bisa jadi selebritas yang rajin blusukan, berpelukan dengan rakyat, bahkan tak segan makan jagung rebus bersama warga. Tapi setelah berkuasa, jadwalnya tiba-tiba padat, lebih padat dari daftar utang warung.

IMM dan HMI memilih menertawakan keadaan ini ketimbang sekadar marah. Laporan kehilangan itu adalah tamparan satir jika bupati tak kunjung muncul, minimal polisi bisa ikut membantu mencari meski kita semua tahu, yang hilang sebenarnya bukan orangnya, melainkan rasa tanggung jawabnya.

Dan begitulah Buton hari ini. Jalanan masih banyak lubang, listrik kadang padam, UMKM menunggu uluran tangan, dan rakyat cuma bisa membaca berita: “Bupati Buton Dilaporkan Hilang.” Kalau nanti benar ketemu, semoga bukan cuma jasadnya yang kembali, tapi juga nuraninya.

 

 

 

Editor: Redaksi

Sumber: domainpublik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *